Di samping itu, prinsip interaktif kolaboratif perlu dikembangkan dalam proses pembelajaran literasi membaca. Ketika pembelajar melakukan interaksi dalam proses membaca, para pembelajar mengumpulkan pengetahuan mereka yang membentuk konstruksi makna yang dipahami bersama. Selanjutnya, prinsip otonomi atau penentuan nasib sendiri menjadi faktor penting dalam pembelajaran literasi membaca. Pembelajar dengan keterampilan pengaturan diri lebih termotivasi dalam hal keberhasilan akademik dan belajar lebih baik daripada pembelajar lain. Individu didorong untuk mengungkapkan perasaannya dan menyampaikan keinginannya untuk menentukan sendiri apa yang akan dilakukan dan apa yang harus ia putuskan.
Rasa visibilitas pribadi dalam konteks sosial ini melibatkan perasaan diakui secara “nyata” oleh diri sendiri dan oleh lingkungannya yang penting bagi penumbuhan kemauan dan motivasi dalam membaca.
Ketiga prinsip pembelajaran literasi membaca tersebut perlu direalisasikan dalam aktivitas pembelajaran untuk menghasilkan makna yang dapat digunakan dalam kehidupan nyata. Banyak kegiatan pembelajaran literasi membaca yang telah dikembangkan di sekolah maupun di lembaga sosial lainnya. Akan tetapi, pada pelaksanaannya para pembelajar belum mendapatkan pemahaman fungsi literasi membaca bagi kehidupan nyata yang mereka perlukan. Banyak gerakan literasi yang pelaksanaannya baru sampai pada tahap peningkatan intensitas membaca.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Padahal, para pembelajar perlu mendapatkan kesadaran bahwa dengan literasi membaca mereka akan memperoleh apa-apa yang mereka perlukan untuk kehidupannya yang lebih baik. Prinsip ini berselaras dengan pengalaman belajar otentik yang dapat membantu pembelajar menyadari relevansi dan kebermaknaan dari apa yang mereka pelajari. Pembelajar juga dapat mengimplementasikan hasil dari pemahamannya secara asli dan praktis melalui penerapan dalam kegiatan kehidupannya.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


















