“Asap yang tertiup angin, jangkauannya sampai 2 kilometer. Oleh karena itu BPBD mendirikan posko kesehatan. Masyarakat bisa berobat kesana. Vitamin, masker dan lain-lain sudah disiapkan. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa dan tidak sampai mengungsi disana,” imbuhnya.
Disinggung mengenai efek penyiraman air ke titik kebakaran terhadap pencemaran lingkungan, khususnya ke sumber air masyarakay seperti sumur. Dia meyakini besar kemungkinan hal tersebut tidak akan terjadi, karena kawasan TPAS Sarimukti telah dibekali Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
“Selama air jatuh ke landfill, masuk ke IPAL. Tidak ada masalah. Ini bisa kita atasi. Selama jatuh ke IPAL, enggak ada masalah,” tuturnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sedangkan mengenai potensi penggunaan TPPAS Legok Nangka, dalam menghadapi situasi ini. Arief menjelaskan lokasi tersebut tidak bisa digunakan, karena disana telah disepakati sebagai tempat pengolahan dan bukan pembuangan sampah. Sehingga dikhawatirkan akan memicu konflik sosial di masyarakat sekitar, apabila sampah yang ada saat ini dipaksakan dibuang disana.
“Dalam dokumen lelang, lahan disana harus keadaan kosong. Dikhawatirkan kalau dipaksakan akan mendapat keluhan dari masyarakat dan Sumitomo sebagai pemenang lelang. Apalagi AMDAL disana untuk pengolahan. Kalau menimbun, tidak sesuai,” terangnya.
Sementara itu Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jabar Hadi Rahmat Hardjasasmita memaparkan, dari total 1,2 juta liter air yang ditumpahkan ke titik kebakaran, beberapa zona telah mengalami progres signifikan. Zona 1 90 persen asap dan api sudah hilang, tinggal menyisakan titik api kecil. Zona 2 dan Zona 3 titik api berkurang, tapi masih asap tebal. Terakhir Zona 4 50 persen asap dan api telah berkurang.
Penulis : Ton
Editor : Maura Dzakiya
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


















