Dia menambahkan, selama lima tahun terakhir progres Citarum diakuinya belum begitu maksimal lantaran terbentur kebutuhan anggaran. Sebab, untuk menjadikan Sungai Citarum yang bersih dan jernih, paling tidak dibutuhkan biaya sekitar Rp36 triliun. Sementara sejauh ini, hanya Rp3 triliun yang dapat dikucurkan.
Kendati demikian, dia merasa bersyukur karena meski dengan anggaran yang terbatas, kondisi kualitas air Sungai Citarum sudah jauh lebih baik ketimbang sebelumnya. Maka dari itu, Emil sangat berharap program ini dapat terus berlanjut guna mewujudkan Sungai Citarum yang bersih dan layak bagi ekosistem sekitar.
“Walaupun hanya 10 persen, kerja-kerjanya sangat luar biasa. Sehingga salah satu solusinya, kalau bisa jangan berhenti di 2025. Ada perpanjangan Perpres ke sekian tahun lagi. Nanggung lah, kira-kira begitu. Tapi secara umum, Citarum jauh membaik. Anak-anak sudah bisa berenang lagi. Jadi Pak Luhut sangat bahagia,” imbuhnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam Rakor PPK DAS Citarum, Emil melaporkan dari 12 rencana aksi yakni penanganan lahan kritis, limbah industri, limbah domestik, persampahan, peternakan, kerambah jaring apung, tata ruang, pengelolaan sumber daya air, pariwisata, penegakan hukum, edukasi dan riset telah berjalan sesuai rencana.
“Tingkat capaian program PPK DAS Citarum dalam enam bulan terakhir, semester 1 2023 terhadap target 2025. Penanganan lahan kritis sudah terselesaikan 33 ribu hektar, total 41,76 persen. Limbah domestik 378 ribuan kepala keluarga (tertangani) dari target 648 ribuan. Pengelolaan sampah dari 6.600 ton perhari, tercapai 3.383 ton. Penanganan limbah industri, dari 1.800an sudah 1.452 commit,” paparnya.
Penulis : Ton
Editor : Maura Dzakiya
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


















