“Ke depan, banyak pekerjaan akan tergantikan oleh AI. Tapi akhlak, empati, dan karakter tidak bisa digantikan. Itu yang justru menjadi kekuatan manusia,” jelasnya.
Ia mengutip pandangan Daniel Goleman yang menyebutkan bahwa sekitar 80 persen keberhasilan seseorang ditentukan oleh kecerdasan emosional dan karakter, sementara kecerdasan intelektual hanya berkontribusi sekitar 20 persen.
Selain itu, masa usia dini disebut sebagai periode emas pembentukan karakter. Pada usia 0 hingga 8 tahun, perkembangan otak anak sangat pesat, dengan terbentuknya triliunan sinaps yang menjadi dasar kemampuan belajar dan perilaku.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Di usia dini, pembiasaan akhlak sangat efektif. Kalau tidak distimulasi, koneksi otak bisa berkurang. Maka penting menanamkan nilai sejak awal,” ujarnya.
Sovia juga mengingatkan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah atau suci dengan potensi kebaikan. Namun, pengalaman hidup, lingkungan, dan pola asuh dapat memengaruhi perkembangan karakter tersebut.
Ia menjelaskan konsep “gunung es diri”, di mana perilaku negatif anak sering kali merupakan hasil dari pengalaman tidak menyenangkan, seperti kurangnya dukungan emosional atau pola asuh yang kurang tepat.
Karena itu, ia menekankan pentingnya orang tua untuk terlebih dahulu mampu mengelola emosi diri sebelum mendidik anak.
“Kalau orang tua tidak bisa mengasuh dirinya sendiri, akan sulit mengasuh anak. Parenting itu dimulai dari diri sendiri,” tegasnya.
Dalam praktiknya, Sovia juga menyoroti pentingnya memberikan respons positif terhadap perilaku anak. Misalnya, ketika anak jujur mengakui kesalahan, orang tua sebaiknya mengapresiasi kejujuran tersebut, bukan justru memarahi.
Penulis : Adi
Editor : Shireni
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


















