Terlebih kata Emil, bergabungnya Atalia ke Golkar baru terjadi belum lama ini. Meski dia tidak menampik, keputusan memilih partai berlambang Pohon Beringin tersebut untuk maju menjadi bakal calon anggota parlemen RI juga atas restunya. Termasuk masukan darinya agar istrinya harus siap menghadapi apapun konsekuensi, dengan keputusannya turut ambil bagian dalam politik praktis.
“Jadi kader baru seminggu. Sudah saya bilang, kalau politik praktis itu jadi makhluk panggung. Pasti di comment. Jadi sudah siap. Enggak jadi makhluk panggung juga, suka tidak suka selalu ada. Saya sangat mensupport tapi saya tidak melakukan arahan, paksaan. Itu mah hidupnya sendiri. Cuma tetap harus ada ridha suami,” ucapnya.
Lebih lanjut Emil mengatakan, baik atau tidaknya partai politik itu bergantung dengan tokoh didalamnya. Bila figurnya kata dia berkualitas, maka akan memberi dampak positif bagi partai. Sebab, melalui partai politik pula kata dia, orang-orang yang memiliki semangat memberi kebermanfaatan akan mendapat ruang lebih untuk berkreativitas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Partai citranya gimana supir dan penumpangnya. Kalau supirnya berkualitas, penumpangnya berkualitas orang dari jalan melihat pun akan mengapresiasi. Makanya partai politik itu kendaraan. Dipakai kebaikan jadi citra yang baik, dipakai keburukan jadi citra yang buruk. Maka orang-orang yang punya idealisme, keinginan memberi kebermanfaatan. Gunakan kendaraan yang bernama partai politik untuk membangun kemaslahatan, perubahan,” kata Emil.
Dia pun membeberkan, keputusannya dan Atalia memilih Golkar pun tidak lepas dari semangat partai tersebut yang dianggapnya sejalan dengan visi dan misinya. Terlepas adanya dinamika yang terjadi di masa lalu, yang terjadi dalam tubuh partai.
Penulis : Mahira Dzikra
Editor : Maura Dzakiya
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


















