“Minat tadi menunjukkan program ini masuk ke logika mereka yang bersemangat. Bahwa yang kurang berhasil, ya begitulah kehidupan. Ini adalah tawaran dari Jawa Barat untuk generasi muda Indonesia bahwa di masa depan, tinggal di desa saja. Asal kuasai ilmu bisnisnya, digitalnya, In Syaa Allah rezeki kota. Bisnisnya bisa mendunia,” sambungnya.
Dia pun turut mengharapkan, program petani milenial dapat didukung oleh masyarakat dan terus berlanjut secara berkesinambungan, meski siapapun pemimpin Jawa Barat kelak.
“Saya minta semua masyarakat menilai secara objektif. Kalau ada sebuah program baik dari pemerintah, jangan dianggap pasti akan selesai seiring dengan pimpinan daerah selesai. Logika itu harus dipatahkan, karena kalau tiap lima tahun ganti program, ganti kebijakan yang bagus terputus,” pintanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebab program ini diyakininya akan menjadi solusi bagi Jawa Barat dalam menghadapi dua tantangan disrupsi, yakni krisis pangan dan krisis petani di masa mendatang. Mengingat potensi ancamannya telah mulai terasa sejak sekarang, dengan dibuktikan adanya impor sejumlah kebutuhan pangan yang dilakukan Indonesia.
“Menurut saya itu bukan pendidikan yang baik untuk bangsa ini. Itulah mengapa saya sudah mengatur, agar siapapun nanti pimpinan Jawa Barat, program regenerasi petani namanya apa saja silakan. Esensinya harus berkelanjutan agar dua, disrupsi krisis pangan dan regenerasi petani bisa kita selesaikan. Mudah-mudahan masyarakat bisa dengan jernih melihat ini adalah solusi, yang siapapun pemimpin politiknya. Gagasan ini terus dilanjutkan,” tandasnya.
Penulis : Ton
Editor : Maura Dzakiya


















