Lebih lanjut Emil menegaskan, petani milenial bukanlah program karpet merah. Dimana para peserta dijamin pasti akan sukses oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Keberhasilan para peserta kata dia, kembali lagi dari usaha dan konsistensi pelaku. Pihaknya hanya memberikan pelatihan dan pendampingan, supaya peserta program memiliki kesiapan untuk bersaing di pasar.
“Program ini bukan memberi honor atau menggaji peserta. Bukan program karpet merah yang dijamin sukses, karena tugas dari pemerintah ini membersamai. Keberhasilan atau tidaknya bergantung dari kerja keras, konsistensi dari peserta,” terangnya.
Banyak contoh peserta dari program ini yang berhasil maupun tidak, tutur Emil. Dia meminta, kepada peserta yang belum berhasil untuk jangan mengeluh dan tetap berupaya bangkit, dengan menjadikan kegagalan sebagai motivasi agar lebih baik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dari tiga yang kita tampilkan, terbukti sebagian mengalami kegagalan tapi tidak menyalahkan siapa-siapa karena kegagalan bagian dari proses yang harus dilalui untuk bangkit lagi dan akhirnya sukses. Contoh Teteh Koni di Ciamis, dari penghasilan kurang lebih Rp1 juta bisa mendapat sampai Rp40 juta. Petani teh yang kemudian diolah. Omset 2018 hanya sekitar Rp300 juta, meningkat sampai Rp2 miliar. Ini harus dimotivasi, jangan sampai karena satu dua kegagalan, seolah-olah di generalisasi program tidak berhasil atau pencitraan,” tuturnya.
Program petani milenial yang membina dari hulu hingga hilir ini papar Emil, telah mematahkan stigma sejumlah pihak. Bahwa apa yang ditawarkan Pemprov Jabar, nyatanya diterima secara logis oleh masyarakat dengan dibuktikan tingginya minat peserta pendaftar. Ini menjadi bukti kata dia, bahwa peluang di masa depan tinggal di desa, penghasilan kota mampu tercipta.
Penulis : Ton
Editor : Maura Dzakiya
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


















