“Teh rakyat bisa jadi medium kreatif yang ekspresif, seperti generasi muda itu sendiri,” ujar Mikael Aryo, RnD Specialist dari Roemah Kentang 1908, sponsor utama kompetisi ini.
Keesokan harinya, Workshop Mixtealogi diadakan sebagai lanjutan dari kompetisi. Puluhan peserta belajar meramu teh dari dua spesialis RnD Roemah Kentang, tidak hanya dengan teh hijau, tapi juga teh hitam dan oolong.
Sorotan Budaya dan Edukasi
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tea Fest tak hanya soal minum teh. Pada 17 Juli, sebuah talkshow menghadirkan dialog antara petani muda, komunitas kreatif, dan pemerintah tentang diversifikasi produk serta perlindungan merek teh rakyat. Diskusi ini memperkuat posisi teh sebagai bagian dari ekonomi kreatif berbasis pertanian.
Tanggal 18 Juli, sesi Live Podcast Voice of Wellness menyoroti khasiat teh bagi kesehatan. Dihadiri Prof. Dr. Keri Lestari, pakar farmasi dan anggota Komisi Nasional Saintifikasi Jamu, podcast ini mengulas manfaat teh secara ilmiah sekaligus membantah mitos yang beredar.
Sementara itu, sejarah panjang teh dibahas tuntas dalam Workshop “Jejak Teh di Jawa Barat” pada 19 Juli. Dua tokoh dihadirkan: Dr. Dadan Rohdiana, peneliti teh, dan H. Alfiansyah Bustami (Komeng), seniman sekaligus anggota DPD RI. Mereka memotret teh sebagai warisan budaya masyarakat Sunda dari masa kolonial hingga kini.
Generasi Muda Dilibatkan
Festival ini juga menyasar edukasi dini. Pada 20 Juli, anak-anak SD mengikuti lomba menggambar bertema Petualangan di Dunia Teh. Lewat media seni, mereka diajak mengenal dan mencintai teh sebagai bagian dari alam dan budaya Indonesia.
Penulis : Adi
Editor : Shireni
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


















