“Nilai ini sangat mengena dalam hati Kartini, bahwa dari kegelapan diskriminasi dan ketertinggalan akan lahir cahaya harapan dan kemajuan,” lanjutnya.
Kota Bandung, bagi Farhan, juga memiliki Kartini-nya sendiri yaitu Raden Dewi Sartika. Ia menilai, semangat perjuangan Dewi Sartika sejalan dan sejiwa dengan Kartini. Bila Kartini menulis dan menginspirasi, maka Dewi Sartika membangun sekolah dan memberdayakan.
“Kita punya Dewi Sartika, pahlawan pendidikan dari Kota Bandung yang mendirikan Sekolah Kautamaan Istri. Inilah jejak yang tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan dalam membentuk peradaban,” katanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Farhan bahkan menyebut ada hubungan historis langsung antara Kartini dan Bandung. Kakaknya, Raden Kartono, wafat di Bandung.
Kartini pun kerap berkirim surat dengan tokoh pergerakan nasional yang saat itu tinggal di Bandung, seperti dari HOS Cokroaminoto. Ini semakin memperkuat keterkaitan emosional dan sejarah antara Kartini dan Kota Bandung.
Dalam kesempatan itu pula, Farhan menegaskan komitmennya untuk menjadikan Bandung sebagai kota yang ramah perempuan dan menjunjung nilai kesetaraan.
Salah satu bentuk nyatanya adalah penyerahan bantuan modal usaha sebesar Rp2 juta kepada para perempuan kepala keluarga (Pekka). Bantuan ini merupakan hasil kolaborasi dengan BAZNAS dan bentuk penghargaan atas perjuangan ibu-ibu yang menjadi tulang punggung keluarga.
“Mereka adalah Kartini masa kini. Perempuan-perempuan tangguh yang dalam diamnya membawa perubahan. Kita semua berhutang pada kekuatan dan cinta mereka,” ujar Farhan.
Penulis : Apun
Editor : Shireni
Halaman : 1 2

















