“Tentunya kami berharap tidak perlu diperpanjang, kita bukan berarti dengan dua minggu akan diperpanjang. Tidak, yang pasti kita ingin cepat padam dalam dua minggu ini. Tentunya dengan upaya kita bersama. Tentunya mohon masyarakat bersama-sama mengurangi sampah,” tuturnya.
Sedangkan mengenai kendala dalam melakukan pemadaman, mengingat kebakaran berlangsung sudah hampir terjadi selama satu bulan. Dia menjelaskan, tingginya debit sampah menyulitkan proses pemadaman karena water bombing yang dilakukan hanya memadamkan api di permukaan, tetapi tidak di bagian bawah. Sehingga diharapkan, dengan pemberian lumpur akan turut memadamkan api di bagian bawah tumpukan sampah.
“Kendala titik api, kalau kita padamkan dengan air. Itu sudah padam, tapi belum. Tinggi sekali sampahnya. Kita pastikan betul padam. Mudah-mudahan dengan lumpur, akan lebih baik ketika itu padam,” terangnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara mengenai penanganan kesehatan terkait dampak polusi asap kebakaran, Bey Triadi mengatakan pihaknya bersama pemangku kepentingan telah melakukan sejumlah mitigasi. Dia memastikan, keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam proses pemadaman kebakaran TPAS Sarimukti.
“Kesehatan sudah tertangani. Ini kondisi darurat, keselamatan kita utamakan. Tentunya kembali kesini tapi kita upayakan cara lain, jadi jangan sampai kita mengandalkan Legok Nangka. Percepatan ada cara lain penanganan sampah lebih baik lagi,” imbuhnya.
Secara terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat Prima Mayaningtyas menyampaikan, setelah penambahan zona darurat untuk 8 ribu ton. Pihaknya akan menambah lagi kuota mencapai 23 ribu ton di lahan seluas 0,9 hektar.
Penulis : Ton
Editor : Maura Dzakiya
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


















