Sementara faktor lain seperti layanan kesehatan, baik rumah sakit maupun Puskesmas kata Setiawan, akan membantu menyempurnakan pondasi yang sudah ada. Termasuk gaya hidup dan faktor genetik.
“Oleh karena itu, kalau kita melihat lebih detail apa saja faktor lingkungan. Di antaranya tugas-tugas dari Perkim. Ventilasi yang harus bagus, sanitasi, air bersih, cahaya, tata letak dan lain sebagainya. Kalau itu dikerjakan dengan baik, akan menyumbang 40 persen terhadap derajat kesehatan masyarakat,” imbuhnya.
Kadisperkim Indra Maha tidak menampik, bahwa perumahan masyarakat yang telah eksisting saat ini tengah berada dalam situasi pelik. Sebab, sumber air bersih masyarakat baik dari sumur maupun yang lainnya, 70 persen telah tercemar bakteri Escherichia Coli atau E Coli, dimana dapat menjadi penyebab gangguan pencernaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ada PR yang harus kita selesaikan, bagaimana perumahan ini membuat pembuangan airnya menjadi baik. Itu sudah mendesak sekali. Maka kita sekarang mengupayakan adanya perbaikan sanitasinya. Misalnya (sanitasi) komunal dan sebagainya,” ungkapnya.
Sedangkan mengenai kelayakan hunian, dia mengaku sejauh ini sejatinya indeks rumah layak huni di Jawa Barat telah meningkat. Salah satunya melalui program rehabilitasi rumah tidak layak huni (rutilahu), dimana selama lima tahun terakhir dari 2018-2023, total sudah 105.000 unit rumah dirampungkan, dengan anggaran keseluruhan dikucurkan mencapai Rp1,8 triliun.
“Kalau kita melihat di 2023 ini, ada 11.420 unit yang kita lakukan perbaikan. Nilainya hampir Rp230 miliar. Itu salah satu upaya kami, dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat,” terangnya.
Penulis : Ton
Editor : Maura Dzakiya
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


















