Elektabilitas Paslon Lain Masih Jauh Tertinggal
Sementara itu, tiga pasangan calon lainnya, yakni:
•Ahmad Syaikhu – Ilham Akbar Habibie: 12,0%
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
•Acep Adang Ruhiyat – Gitalis Dwi Natarina: 6,5%
•Jeje Wiradinata – Ronal Surapraja: 5,3%
Masing-masing belum mampu menembus angka 15%. Sedangkan swing voters tercatat sebanyak 1,6%.
Faktor utama yang mendukung keunggulan Dedi – Erwan adalah tingginya tingkat pengenalan (92,1%) dan kesukaan (88,6%) terhadap Dedi Mulyadi. Menurut Toto, tingginya tingkat popularitas dan kesukaan ini berbanding lurus dengan dukungan yang merata di seluruh segmen demografis, baik dari segi gender, suku, agama, usia, tingkat pendidikan, penghasilan, hingga preferensi partai politik.
Menariknya, banyak pemilih partai lain seperti PKS, PDIP, dan PKB justru lebih memilih Dedi – Erwan, dengan rincian sebagai berikut:
•Pemilih PKS: 47,9%
•Pemilih PDIP: 71,8%
•Pemilih PKB: 62,1%
Tantangan Pesaing dan Potensi Money Politic
Toto menambahkan, meskipun masih ada waktu sekitar 20 hari hingga hari pemilihan, mengejar ketertinggalan elektabilitas sebesar ini dalam waktu singkat sangat sulit. “Biasanya, hanya tsunami politik atau money politic yang bisa mengubah peta elektabilitas secara drastis dalam waktu yang sangat terbatas. Namun, hingga saat ini belum terlihat adanya indikasi tsunami politik maupun praktik money politic yang signifikan,” jelas Toto.
Jika ada upaya money politic dari pesaing, Toto memperingatkan bahwa hal tersebut memerlukan dana sangat besar, bisa mencapai ratusan miliar, dan berisiko tinggi terkena diskualifikasi oleh KPU karena masuk kategori pelanggaran Terstruktur, Sistematis, dan Massif (TSM). “Biasanya, kandidat yang mempertimbangkan money politic adalah mereka yang selisih elektabilitasnya tidak jauh, sekitar 5-7%. Namun, dengan selisih lebih dari 20%, apalagi di atas 30%, langkah ini menjadi tidak efektif dan sangat berisiko,” tegasnya.
Penulis : Adi
Editor : Shireni
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


















