2. Momen Instropeksi Fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berasal dari akar kata fathoro-yafthiru dan hadis Rasulullah Saw:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap rida Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaih).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari penjelasan ini dapat disimpulkan pula bahwa Idul Fitri bisa berarti kembalinya kita kepada keadaan suci atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kesucian (fitrah).
Idul Fitri hakikatnya bukanlah hari raya untuk berhura-hura atau pesta pora. Ini adalah sebuah momentum untuk berintrospeksi diri. Setelah sebulan penuh digembleng dengan puasa dan rangkaian ibadah yang menyertainya, Idul Fitri idealnya harus menjadikan kita terlahir kembali sebagai manusia paripurna tanpa berlumur dosa. Mulai dari nol, saatnya kembali menyelaraskan kesalehan ritual dengan kesalehan sosial.
Adanya rezeki lebih yang datang di saat Idul Fitri bukan alasan untuk membeli pakaian baru, gadget baru atau memuasakan keinginan kita akan hal baru, Sebagai milenial kita harus mampu menjaga kesederhaan, rezeki yang kita terima merupakan sebuah ihwal baik untuk terus berbagi pada sesama. Sebab hakikat idul fitri adalah menambah taqwa. Dimulai berbagi pada orang terdekat kita, keluarga, kemudian kerabat dan lingkungan sekitar kita.
3. Mudik Asyik Tetap Patuhi Protokol Kesehatan Pemerintah telah mengizinkan mudik lebaran. Kendati demikian, ada beberapa syarat yang harus dipatuhi untuk mengendalikan pandemi covid-19. Salah satunya dengan mendapatkan vaksinasi booster. Untuk itu, wajib bagi milenial mematuhi peraturan yang berlaku, supaya mudik tetap asyik, kesehatan orang yang kita sayangi pun terjaga selalu.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


















