Erwan menekankan pentingnya literasi keuangan dan nasionalisme ekonomi sebagai dua hal yang harus berjalan beriringan agar Indonesia tidak hanya tumbuh, tetapi juga berdaulat secara ekonomi.
“Mari jadikan momen ini sebagai ruang refleksi dan inspirasi. Ketika kita berbicara tentang pahlawan, jangan hanya membayangkan mereka yang berjuang di masa lalu. Pahlawan hari ini adalah mereka yang berbuat nyata untuk negeri — guru yang mengajar dengan dedikasi, petani yang menanam dengan ikhlas, pelaku UMKM yang berinovasi, serta anak muda yang menggunakan teknologi untuk menebar manfaat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Erwan mengajak seluruh peserta untuk menjadi “Rupawan”, yakni pahlawan dalam keseharian yang menjaga rupiah, mengelola ekonomi dengan bijak, dan menebarkan semangat cinta bangsa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya berharap Bincang Rupawan 2025 tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi juga menjadi gerakan kebangsaan baru — gerakan untuk mencintai negeri melalui ekonomi yang berdaulat dan masyarakat yang berkarakter. Mari kita jaga rupiah sebagai simbol kebanggaan bangsa dan terus kobarkan semangat kepahlawanan di setiap langkah kehidupan,” pungkas Erwan.
Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky Perdana Gozali menyampaikan bahwa di era digital, ancaman terhadap kedaulatan bangsa kadang tidak terlihat. Karena itu, generasi muda dapat menjadi pahlawan yang menjaga rupiah sebagai harga diri bangsa.
“Wujudkan kepahlawanan melalui Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah. Cinta berarti merawat rupiah, mengenal ciri keasliannya, dan menghormatinya. Bangga berarti menggunakan rupiah, mempromosikan karya Indonesia, dan percaya pada potensi bangsa,” ungkapnya
Penulis : Adi
Editor : Shireni
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


















