Menurutnya, setiap anak memiliki potensi yang dapat berkembang apabila mendapatkan lingkungan, pendidikan dan dukungan yang tepat.
“Setiap anak punya kreativitas dan punya potensi. Tinggal bagaimana kita bisa memberikan wadah dan pendidikan yang tepat,” tutur Firli.
Ia berharap kolaborasi antara keluarga, masyarakat, institusi pendidikan, industri dan pemerintah terus diperkuat untuk menciptakan ekosistem yang inklusif dan ramah disabilitas di Kota Bandung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi keluarga, pencapaian tersebut merupakan perjalanan panjang yang berawal dari bakat Uqi sejak masih kecil. Sang ayah, Nana Sutisna menceritakan, ketertarikan Uqi terhadap gambar sudah terlihat sejak usia dini.
“Memang dari kecil sudah kelihatan. Kalau dikasih buku, dia senangnya bukan ABCD, malah bikin bulat-bulat, disambung-sambung sampai hampir membentuk binatang,” tutur Nana.
Bakat tersebut terus berkembang ketika Uqi menempuh pendidikan. Ia sempat bersekolah di SLB Cicendo dan kemudian melanjutkan pendidikan.
Ketertarikannya terhadap dunia visual semakin terlihat, termasuk ketika ia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan kemudian mempelajari komputer saat bersekolah di SMK.
Melihat potensi tersebut, Nana sempat kebingungan mencari tempat pendidikan yang dapat mengembangkan kemampuan anaknya sekaligus sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas.
“Saya sempat bingung, ini anak saya harus disalurkan ke mana. Jurusan apa, universitas mana yang bisa menerima anak disabilitas,” katanya.
Nana kemudian mendapat informasi mengenai Widyatama dan mendaftarkan Uqi. Sempat masuk kelas reguler, Uqi akhirnya berpindah ke ATC Widyatama setelah merasa lebih sesuai dengan lingkungan pembelajaran di sana.
Penulis : Adi
Editor : Shireni
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


















