Penjelasannya begini, bersyukur dengan hati adalah aktivitas visualisasi nikmat yang kita dapatkan. Ini penting, karena visualisasi nikmat adalah pintu masuk menuju syukur dalam wilayah praksis. Tentu, tidak mungkin kita mampu memvisualisasi seluruh nikmat Tuhan kepada kita, karena jumlahnya tak berhingga. Namun, aktivitas ini menjadi penting untuk menyadarkan kita dari perasaan serba malang dan susah.
Contohnya, mungkin saja di satu sisi kita merasa susah dalam hal usaha, tapi di sisi lain kita sukses dalam hal kesehatan, dan seterusnya. Kemudian kita akan memasuki syukur dengan lisan, yaitu apresiasi dalam bentuk ucapan (pujian). Bisa dengan tahmîd, tasbîh, tahlîl dan lain sebagainya. Bersyukur dengan lisan berkaitan erat dengan bersyukur dengan hati. Sebab, setelah melakukan proses visualisasi nikmat, kita pasti tersadar bahwa pujian setinggi dan sebesar apapun tidak akan menyetarai segala nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Di samping kemampuan kita bersyukur juga berasal dari-Nya. Nabi Dawud ‘alaihissalam ketika mendengar firman Allah (QS. Saba’: 13):
“Bekerjalah, wahai keluarga Daud, untuk bersyukur”, dia berkata:
يا رب، كيف أشكرك، والشكر نعمة منك؟ قال: الآن شكرتني حين علمت أن النعمة مني
“Wahai Tuhan, bagaimana aku bersyukur kepada-Mu, padahal syukur adalah nikmat (pemberian)-Mu (juga)?” Allah berfirman:
“Sekarang kau telah bersyukur kepada-Ku, karena kau telah tahu bahwa nikmat itu berasal dari-Ku” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, Kairo: al-Faruq al-Haditshah li al-Thiba’aj wa al-Nasyr, 2000, juz 11, h. 267).
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya



















