“Di sini mungkin bukan yang terlengkap, tapi kita adalah salah satu yang masih survive. Jadi mungkin banyak orang yang datang ke sini, karena kami masih ada,” terang Bob.
Ribuan kaset pita, CD, dan piringan hitam ada di sini. Berbagai kalangan pengunjung pun hilir mudik.
Kata Bob, untuk datang ke DU 68, anda tak harus membeli rilisan fisik. Datang ke sini lalu berdiskusi tentang musik pun diperbolehkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bob juga mengaku 23 tahun eksistensi DU 68 tidak lepas dari suka dan duka yang beragam. Selain kembang kempisnya industri musik bagi penjual riisan fisik, ada kebanggaan dari DU 68 karena bisa mempertemukan banyak pecinta musik.
“Belum lama ini ada mantan artis cilik Anita Hadi. Dulu dia bikin vinyl waktu usianya 12 tahun. Sekarang usianya 50 tahunan, dan dia menemukan rilisan fisiknya sendiri di sini,” terang Bob.
Ia juga membagikan sedikit kiat-kiat bagi anda yang gemar mengoleksi rilisan fisik. Menurutnya, rilisan fisik yang anda miliki harus sering diputar, namun juga dijaga kualiitas pitanya.
“Pastikan pitanya enggak rusak dengan memutar pakai alat yang baik, serta menjauhkan dari ruangan yang lembap,” terangnya.
Bentuk Ekosistem Pecinta Musik Bandung
23 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Hari ini, DU 68 bukan sekadar toko musik saja, melainkan juga salah satu ekosistem musik yang ada di Kota Bandung.
Di sini, ada pecinta rilisan musik, musisi, kolektor. hingga musisi itu sendiri.
“Pecinta musik enggak hanya dari Bandung. Tadi kita sama-sama lihat ada orang Jakarta dan Malang yang datang ke sini. Selain itu, kami juga mengirim (rilisan fisik) ke berbagai belahan dunia. Ke daratan Cina sana, dan oh ini, kami mau ngirim kaset ke Perancis,” beber Bob sembari menunjukkan bingkisan yang sudah siap dikirim dengan alamat Paris, Prancis.
Penulis : Adi
Editor : Dhardiana
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


















