Di Bandung, ia langsung menjadikan DU 68 sebagai tempatnya berburu.
Soal mengapa dirinya masih mengoleksi rilisan fisik, Andito mengaku selalu tertarik pada sampul kaset. Musisi yang merilis album akan menulis semacam ucapan terima kasih.
Lewat sampul itu pula, biasanya kita yang tertarik menguliti jejaring atau kawan dekat musisi favorit kita bisa menemukannya, karena biasanya sang musisi akan menuliskannya pada bagian ‘thanks to’.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal yang sama juga dilakukan Joan. Pemuda asal Malang ini jauh-jauh datang ke DU 68 hanya untuk mencari kaset pita Chicago. Ia mengetahui toko musik ini dari internet dan terbang ke Bandung untuk berburu.
“Di daerah saya udah agak susah nyari kaset. Saya banyak dengar soal DU 68, dan benar saja, apa yang saya cari, bisa ditemukan di sini,” ujar Joan.
23 Tahun Eksis dan Jadi Pusat Wisata Musik
Vikry, atau akrab disapa Bob adalah orang di balik DU 68. Sejak 2000, toko musik ini sudah eksis. Kepada Humas Kota Bandung, Bob mengisahkan awalnya DU 68 menjual rilisan fisik bekas, sehingga harganya pun lebih terjangkau.
“Tahun segitu (2000-an) merupakan masa jaya rilisan fisik. Toko rilisan fisik masih banyak yang buka. Nah, kita menjual rilisan fisik second, jadi harganya lebih murah,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, pergeseran tren menikmati musik ke era digital memberi sumbangsih terhadap tumbangnya banyak toko rilisan fisik. Jika anda mengenal penjual rilisan fisik di Jalan Cihapit ataupun Astanaanyar, kondisinya kini tak seramai dulu. Jumlah rilisan fisiknya pun tak selengkap dulu.
Penulis : Adi
Editor : Dhardiana
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


















