Dampak dari pencerapan seperti itu tak sedikit yang merasa benar sendiri. Membusungkan “keakuan” dalam beragama. Orang lain yang ibadahnya tidak serajin “aku” perlu diingatkan, bahkan, bila perlu dengan cara-cara yang keras. Kemudian, pemahaman takwa yang lebih mendalam dapat kita jumpai dalam sebuah catatan Muhammad Asad. Orang yang bertakwa adalah mereka yang sadar akan kehadiran Tuhan.
Penafsiran seperti ini membebarkan pengertian takwa yang lebih esoteris. Sikap relijius yang ditampilkan oleh seorang hamba bukanlah sebab ketakutan semata, melampaui itu, sikap demikian tampak sebagai keniscayaan karena Tuhan selalu hadir dalam setiap langkah hidup kita. Dengan demikian, rasa “aku” dalam beragama mampu dikikis habis hingga yang ada hanyalah Sang Khalik. Karena kehadiran-Nya, tidak pantas kita menghukumi orang lain sebagai ahli bid’ah atau kafir. Sebab bukan kita yang berhak memberi penilaian akhir.
Ada Tuhan di sisi kita, yang punya kuasa penghakiman. Sikap yang yang tidak menonjolkan “aku” juga merupakan jalan dakwah yang menghadirkan kelembutan. Amar makruf atau ajakan kebaikan lebih didahulukan ketimbang menghajar kemungkaran. Alhasil, pemaknaan takwa sebagai kesadaran akan hadirnya Tuhan lebih hakiki (dimensi esoterik) ketimbang sekadar rasa takut yang syariat (dimensi eksoterik).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hadirin, Penggalian makna takwa bisa juga berpijak dari kata takwa itu sendiri. Dalam kamus bahasa Arab, jika kita mencari definisi kata takwa (ta-qof-wau-ya), maka kita akan dirujuk ke kata dzulum. Bahwa, dzulum adalah lawan kata dari takwa. Dzulum sendiri mempunyai arti melampaui batas atau berlebih-lebihan.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


















