Allah swt berfirman,
وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ
Artinya, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim [14]: 7)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui ayat ini, ada pesan peting untuk kita pahami bersama. Jika kita bersyukur kepada Allah swt karena masih dianugerahi usia panjang dan kesehatan badan sehingga bisa berjumpa dan merampungkan satu bulan Ramadhan dengan berpuasa, maka Allah akan menambah kenikmatan tersebut dengan berjumpa di Ramadhan-ramadhan berikutnya. Bagaimana cara bersyukurnya, yaitu dengan selalu meningkatkan semangat ketakwaan dan beribadah kepada Allah swt.
Konsistensi Ibadah Bukan berarti Ramadhan telah berlalu, kemudian semangat ibadah kita tidak sebesar ketika hari-hari puasa dulu. Satu bulan Ramadhan, 29 atau 30 hari berpuasa, dengan segala ragam ibadah wajib dan sunnah di dalamnya, seharusnya mampu memperkokoh benteng keimanan kita. Ibarat sebuah lembaga, bulan Ramadhan adalah madrasah yang mendidik umat Muslim menjadi pribadi yang tahan banting, pribadi yang memiliki imunitas iman kebal tak terkalahkan.
Para ulama sendiri menjelaskan bahwa salah satu tanda diterimanya amal ibadah seseorang selama bulan Ramadhan adalah ia masih bisa menjaga konsistensi ibadah setelah bulan ini berlalu. Salah seorang ulama kenamaan dari madzhab hambali, Syekh Ibnu Rajab al-Hambali pernah menjelaskan,
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


















