Introspeksi Diri Hari raya Idul Fitri memang momen kemenangan bagi umat Muslim setelah berjuang tiga puluh hari menjalani puasa, satu bulan melawan hawa nafsu. Akan tetapi, dengan begitu kita juga harus rela melepas kepergian bulan Ramadhan, bulan mulia yang sudah membersamai kita. Pendek kata, Idul Fitri adalah sebuah simbol kesempurnaan. Jika kesempurnaan telah diraih, maka harus ada yang pergi, yaitu bulan Ramadhan.
Syekh Ali ath-Thanthawi berkata dalam syairnya,
إِذَا تَمَّ أمرٌ بَدَا نَقْصُهُ # تَرَقَّبْ زَوَالاً إِذَا قِيْلَ تَمَّ
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Artinya, “Jika sesuatu telah sempurna, maka akan tampak kekurangannya. Renungilah yang hilang jika sesuatu telah dikatakan sempurna.”
Syair ath-Thanthawi di atas berpesan bahwa ketika sebuah kemenangan telah diraih, kesempurnaan telah dicapai, maka ada sesuatu yang pergi yang harus kita renungi dan diinstropeksi. Pertanyaannya, bagaimana cara kita mengintrospeksinya? Ada banyak hal cara kita menginstropeksi diri setelah Ramadhan pergi.
Pertama adalah dengan bersyukur karena telah kita telah diberi kenikmatan besar berupa umur panjang dan kesehatan sehingga masih bisa bertemu Ramadhan tahun ini, bahkan melewatinya sampai selesai satu bulan hingga tiba hari kemenangan. Jika bersyukur, maka harapannya semoga Allah akan menambah kenikmatan itu dengan bertemu di Ramadhan berikutnya.
Mungkin ada saudara kita yang dicabut usianya sebelum Ramadhan tiba sehingga tidak bisa berjumpa dengan bulan puasa, mungkin juga ada saudara kita yang dicabut usianya di pertengahan Ramadhan sehingga tidak mendapatkan kesempatan berpuasa satu bulan lamanya, atau ada pula saudara kita yang menjelang Idul Fitri nyawanya dicabut oleh Allah swt sehingga tidak bisa ikut merayakan hari kemenangan ini. Karena itu, kita yang sampai detik ini masih diberi usia panjang harus banyak-banyak bersyukur kepada Allah swt.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya


















